BOMBANA, BeraniNews.com – Perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi masyarakat menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan bahasa daerah. Pemerintah Kabupaten Bombana kini memperkuat langkah pelestarian agar Bahasa Daerah Bombana tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kerja sama Pemerintah Kabupaten Bombana dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, M.Si., dan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si., di Aula Sasadu Gedung M. Tabrani, Jakarta Timur, Selasa (15/9/2026).
Bagi Bupati Burhanuddin, pelestarian bahasa daerah bukan sekadar mempertahankan alat komunikasi masyarakat. Lebih dari itu, bahasa merupakan bagian dari identitas, nilai budaya, serta warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Burhanuddin menegaskan, modernisasi dan kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga akar budaya daerah, terutama di tengah generasi muda.
“Modernisasi dan kemajuan teknologi tidak boleh membuat kita kehilangan akar budaya. Jika generasi muda enggan bertutur dalam bahasa daerah, kita berisiko kehilangan identitas dan nilai-nilai luhur penanda jati diri Bombana,” tegasnya.
Menurutnya, kekhawatiran terhadap semakin berkurangnya penggunaan bahasa daerah harus dijawab melalui langkah nyata. Karena itu, kerja sama dengan Badan Bahasa diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepakatan, tetapi diterjemahkan menjadi program yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan di Kabupaten Bombana.
“Pelestarian bahasa daerah sangat dibutuhkan agar bisa awet nantinya,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberlangsungan bahasa daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Sekolah, guru, keluarga, masyarakat, dan generasi muda memiliki peran penting agar bahasa daerah tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu kunci utama. Sebab, keberadaan sebuah bahasa tidak hanya bergantung pada dokumentasi atau arsip, tetapi juga pada keberlanjutan penggunaannya di tengah masyarakat.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin mengapresiasi langkah Pemkab Bombana dalam memperkuat kerja sama di bidang kebahasaan dan literasi.
Badan Bahasa menyatakan kesiapan memberikan pendampingan teknis, konsultasi, maupun menghadirkan narasumber melalui Balai atau Kantor Bahasa di Sulawesi Tenggara maupun dari tingkat pusat.
Ruang lingkup kerja sama juga tidak terbatas pada pelestarian Bahasa Daerah Bombana. Kolaborasi mencakup penguatan budaya literasi di sekolah, penyediaan bahan bacaan, pengembangan talenta, bidang penerjemahan, hingga pembinaan kemampuan berbahasa Indonesia bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di Kabupaten Bombana.
Pemkab Bombana juga menyatakan terbuka mendukung berbagai program Badan Bahasa yang dapat diterapkan di daerah, termasuk apabila Bombana dipilih sebagai lokasi percontohan atau pilot project program pengembangan kebahasaan dan literasi.
Bagi pemerintah daerah, penguatan kebahasaan dan literasi berkaitan erat dengan pembangunan sumber daya manusia. Ketersediaan bahan bacaan serta lingkungan pendidikan yang mendukung diharapkan dapat membangun kebiasaan membaca sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.

Kerja sama tersebut juga membuka peluang pengembangan bidang penerjemahan. Hasil penerjemahan nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan dan disebarluaskan sehingga memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Di sisi lain, pembinaan bahasa Indonesia bagi TKA menjadi bagian yang relevan dengan perkembangan kawasan industri di Kabupaten Bombana. Kemampuan berbahasa Indonesia diharapkan dapat mendukung komunikasi di lingkungan kerja sekaligus mempermudah interaksi TKA dengan masyarakat setempat.
Burhanuddin berharap seluruh bentuk kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui program yang nyata dan berkelanjutan sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Dengan demikian, upaya menjaga Bahasa Daerah Bombana tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan warisan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan literasi, pendidikan, dan pembangunan sumber daya manusia.






















