Kabaena, BeraniNews.com — Ketergantungan masyarakat Pulau Kabaena terhadap layanan kesehatan di ibu kota kabupaten masih menjadi persoalan utama dalam penanganan medis. Keterbatasan fasilitas dan layanan rujukan di wilayah kepulauan membuat pasien kerap harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan penanganan lanjutan.
Menjawab kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bombana mempercepat pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tipe D di Kabaena Barat sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem layanan kesehatan dan menekan angka rujukan keluar daerah.
Percepatan pembangunan ini menjadi fokus dalam kunjungan kerja Bupati Bombana Ir. H. Burhanuddin, M.Si, dan Wakil Bupati Bombana Ahmad Yani, S.Pd., M.Si, pada hari ketiga di Pulau Kabaena (Rabu, 25/3/2025). Peninjauan dilakukan untuk memastikan progres pembangunan serta kesiapan fasilitas yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat secara langsung.

Bupati memulai kunjungan dari Puskesmas Kabaena Barat. Fasilitas kesehatan tingkat pertama ini selama ini menjadi tumpuan utama masyarakat, namun memiliki keterbatasan dalam menangani kasus-kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor tingginya rujukan pasien ke ibu kota, yang tidak jarang terkendala jarak, biaya, fasilitas, hingga waktu tempuh, terutama bagi pasien dalam kondisi darurat.
“Puskesmas ini nantinya harus benar-benar memberikan pelayanan optimal. Kita ingin masyarakat Kabaena mendapatkan layanan kesehatan yang layak tanpa harus ke luar pulau,” ujar Bupati.
Peninjauan kemudian dilanjutkan ke lokasi pembangunan RSUD Tipe D. Kehadiran rumah sakit ini dinilai menjadi kunci dalam memutus rantai ketergantungan rujukan, dengan menghadirkan layanan medis lanjutan yang lebih dekat, cepat, dan terjangkau bagi masyarakat kepulauan.
Namun demikian, percepatan pembangunan menjadi krusial agar fasilitas tersebut segera dapat difungsikan. Tanpa dukungan layanan rujukan yang memadai di dalam wilayah, beban pelayanan kesehatan masih akan bertumpu pada fasilitas di luar Kabaena.
Selain aspek layanan kesehatan, persoalan infrastruktur lingkungan juga menjadi perhatian. Bupati meninjau rencana rehabilitasi box culvert yang selama ini menjadi titik rawan genangan saat musim hujan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan, terutama di kawasan permukiman.
Di sisi lain, pengelolaan sampah yang belum optimal turut menjadi tantangan dalam menjaga kesehatan masyarakat. Pemerintah daerah merencanakan pembangunan Tempat Penampungan Akhir (TPA) sebagai bagian dari upaya memperbaiki sistem sanitasi lingkungan.
“Kita ingin ke depan pengelolaan sampah di Kabaena lebih terarah dan modern, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat,” tegasnya.
Percepatan pembangunan RSUD Tipe D, penguatan layanan puskesmas, serta pembenahan infrastruktur lingkungan menjadi rangkaian upaya yang saling berkaitan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Kabaena. Tanpa langkah terpadu, persoalan rujukan, keterbatasan akses, dan risiko kesehatan lingkungan berpotensi terus berulang.
Pemerintah daerah kini dituntut memastikan seluruh rencana tersebut berjalan tepat waktu dan tepat sasaran, agar masyarakat kepulauan benar-benar merasakan kehadiran layanan kesehatan yang menyeluruh dan berkeadilan. (Ref)
































