KONAWE, BeraniNews – Mobil pawai ta’aruf MTQ Bombana yang tampil dalam perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara di Kabupaten Konawe menjadi sorotan publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Sejumlah foto dan video yang beredar memperlihatkan kondisi kendaraan pawai kafilah Kabupaten Bombana yang dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat. Polemik tersebut kemudian memicu beragam tanggapan dari warganet hingga menjadi perbincangan di berbagai platform media sosial.
Menanggapi ramainya sorotan terhadap mobil pawai ta’aruf MTQ Bombana tersebut, Asisten I Setda Bombana yang juga sebagai Ketua Panitia MTQ Kabupaten Bombana, M. Syukri Kasim, akhirnya memberikan penjelasan terkait proses pengerjaan dekorasi kendaraan yang digunakan dalam pawai ta’aruf sebagaimana diberitakan Urbantalk.id.

Menurut Syukri, pihak panitia justru menjadi pihak yang paling kecewa karena hasil dekorasi kendaraan yang ditampilkan tidak sesuai dengan desain yang sebelumnya telah disepakati bersama pihak penyedia jasa.
“Kami sangat kecewa karena gambar desain yang kami terima dan telah disetujui sebelumnya ternyata tidak sesuai dengan hasil yang ditampilkan di lapangan,” ujar Syukri, Rabu (25/6).
Ia menjelaskan, sejak awal panitia telah memenuhi berbagai kebutuhan yang diminta pihak penyedia jasa, termasuk terkait biaya pengerjaan dekorasi kendaraan.

Bahkan, kata dia, panitia juga telah membuka ruang komunikasi apabila terdapat kebutuhan tambahan selama proses pengerjaan berlangsung.
“Kami sudah memberikan biaya sesuai permintaan. Bahkan kami sudah menyampaikan, kalau memang masih ada kekurangan silakan disampaikan kepada kami. Namun pihak pembuat selalu mengatakan semuanya beres,” ungkapnya.
Syukri juga mengungkapkan bahwa terdapat perubahan kendaraan yang digunakan untuk pawai ta’aruf. Awalnya, konsep dekorasi dirancang menggunakan mobil Toyota Hilux sebagaimana yang tercantum dalam desain.
Namun dalam pelaksanaannya, kendaraan tersebut tidak tersedia di Konawe sehingga panitia akhirnya menggunakan mobil Grand Max yang dibawa dari Kabupaten Bombana.
Meski terjadi perubahan jenis kendaraan, Syukri menegaskan bahwa hal tersebut telah dikomunikasikan kepada pihak yang mengerjakan dekorasi dan pihak terkait tetap menyatakan kesanggupannya.
“Jadi memang mobil awalnya Hilux, hanya Hilux yang di Konawe tidak jadi, sehingga kami bawa Grand Max dari Bombana tapi pihak LO masih menyangupi,” katanya.

Dalam pemberitaan Urbantalk.id, seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya mengungkapkan bahwa panitia sebelumnya telah menyerahkan uang muka (DP) sebesar Rp 5 juta kepada pihak yang mengkoordinasikan pengerjaan desain kendaraan pawai.
Sumber tersebut menjelaskan bahwa komunikasi awal dilakukan melalui sebuah event organizer (EO) di Konawe yang mempertemukan panitia dengan pihak yang mengaku mampu mengerjakan dekorasi kendaraan sesuai konsep yang diinginkan.
“Kami sebenarnya merasa tertipu. Ada EO di Konawe yang mempertemukan kami dengan orang yang katanya bisa membuat desain seperti yang direncanakan. Kami sudah membantu pembelian bahan dan kebutuhan lainnya, tetapi kemudian masih ada permintaan tambahan yang menurut kami sudah tidak masuk akal,” ujar sumber tersebut.
Di tengah polemik yang berkembang, persoalan tersebut disebut telah ditindaklanjuti oleh pihak terkait.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, pihak yang mengerjakan dekorasi kendaraan pawai telah menemui perwakilan Pemerintah Kabupaten Bombana yang berada di Konawe untuk menyampaikan permohonan maaf atas hasil pekerjaan yang menuai kritik dari masyarakat.
“Orang yang membuat dekorasi itu sudah datang menemui pihak pemerintah daerah dan menyampaikan permohonan maaf atas kelalaiannya,” tambah sumber tersebut.
Terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Bombana, Ir. Sahrun, ST., M.P.W.K., memastikan pemerintah daerah akan melakukan evaluasi menyeluruh setelah seluruh rangkaian MTQ XXXI Tingkat Provinsi Sulawesi Tenggara selesai dilaksanakan.
Evaluasi tersebut akan menjadi bahan perbaikan bagi Pemerintah Kabupaten Bombana dalam mempersiapkan keikutsertaan kafilah pada berbagai kegiatan serupa di masa mendatang.
“Setelah pulang nanti akan kita evaluasi secara menyeluruh,” tegas Sahrun.
Sebagai salah satu bagian dari representasi daerah dalam ajang MTQ tingkat provinsi, kendaraan pawai ta’aruf memiliki nilai simbolik yang cukup penting. Karena itu, polemik yang terjadi mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Publik pun berharap evaluasi yang akan dilakukan nantinya dapat menjadi pembelajaran agar persiapan kafilah Kabupaten Bombana pada event-event berikutnya dapat berlangsung lebih matang dan maksimal. (Red)














































































